Surat Cinta untuk Moralis Sepakbola Indah

by Ultras Indonesia | Posted on 2016-05-08 21:30:10
 
0   0


Pemenang kontes kecantikan selalu dinilai berdasarkan penilaian kualitatif: Siapa yang parasnya paling cantik? Siapa yang kepribadiannya paling menarik? Siapa yang memberi jawaban paling memuaskan ketika wawancara?

Bagaimana menentukan yang paling cantik, yang paling menarik, dan yang memberi jawaban paling memuaskan? Dewan juri yang berhak memberikan penilaian tersebut. Karena juri adalah manusia yang punya selera masing-masing dan referensi mereka menilai tergantung oleh berbagai faktor, maka dewan juri kontes kecantikan selalu terdiri oleh banyak orang dari berbagai latar belakang untuk menghindari bias.

Inilah mengapa sepakbola bukan kontes kecantikan, di mana pemenangnya tidak ditentukan oleh siapa yang bermain paling cantik atau paling indah. Tidak ada dewan juri yang menilai tim mana yang lebih cocok keluar sebagai pemenang.

Cara menentukan pemenang pertandingan sepakbola adalah sesuatu yang terukur secara kuantitatif: skor. Mereka yang mencetak gol lebih banyak dari lawannya adalah pemenang. Yang mencetak gol lebih sedikit adalah pecundang. Ini fundamental dan tak bisa ditawar-tawar.

Bagaimana pun cara yang ditempuh, selama legal dan berada dalam koridor peraturan pertandingan sepakbola, pemenang selalu mereka yang mencetak gol lebih banyak. Belum pernah ada dalam sejarah sepakbola di mana pemenang ditentukan oleh dewan juri yang menilai kecantikan permainan sebuah tim.

Maka ketika ada yang mempertanyakan kelayakan Atletico Madrid lolos ke final Champions League karena dinilai bermain negatif karena super defensif, maka mereka yang mempertanyakan hal tersebut lebih baik menonton Miss Universe.

***

Sepakbola mungkin satu-satunya olahraga tim populer dengan kontak fisik di mana pertahanan (defence) kerap dipandang sebelah mata dan tak penting. Tim dengan permainan defensif yang memukau sekalipun rentan terhadap cibiran dari ekstrimis-ekstrimis sepakbola indah.

Hal ini tak terjadi di olahraga lain. Di NBA misalnya, salah satu penghargaan tertinggi untuk individu adalah Defensive Player of the Year. Tidak hanya itu, tiap tahun selalu terpilih 5 orang dalam NBA All-Defensive Team untuk memberi penghargaan kepada pemain dengan kemampuan bertahan terbaik di liga. Tidak ada award untuk Offensive Player of the Year dan tidak ada NBA All-Offensive Team. Kita juga tahu bahwa di bola basket, blok selalu mengundang respon dan apresiasi yang sama meriahnya dengan slam dunk.

Tengok juga American Football. Pemain terbaik di Super Bowl tahun ini adalah Von Miller, seorang Linebacker. Pemain bertahan. Defensive End seperti J.J. Watt sama atau bahkan lebih populer dari beberapa quarterback dan wide receiver yang bermain di offense. Adagium "Defense Wins Championship" selalu teresonansi dengan lebih nyata di American Football berkat peluang konversi tim defense untuk mencetak skor saat melakukan intersepsi dan Pick Six.

Jika kedua olahraga tersebut terlalu Amerika-sentris, lihat juga rugby di mana salah satu hal terindah adalah melihat kesuksesan sebuah tim bertahan tepat di depan garis goal mereka. Permainan juara dunia New Zealand All Blacks yang indah itu tak ada artinya jika pertahanan mereka tak sesangar tarian Haka yang mereka lakukan sebelum pertandingan.

Namun di sepakbola, tim yang menang dengan bertahan selalu dicaci maki karena dianggap mencederai nilai-nilai agung sepakbola. Tidak ada cinta dan apresiasi untuk kemampuan defensif. Bek tengah dan bek sayap selalu dianggap pemain yang tak cukup atletis untuk bermain sebagai pemain menyerang.

Pertanyaannya, siapa yang menetapkan nilai-nilai sepakbola indah sebagai syarat menang sebuah pertandingan sepakbola? Ini hanyalah imajinasi para moralis kesiangan yang mencoba mencari pembenaran dari kegagalan.

Pernahkah melihat sebuah tim yang bermain defensif protes karena tim lawan yang terlalu gencar menyerang? Tentu saja tidak.

Jika seorang penonton sepakbola boleh mengkritik sebuah tim karena memarkir bus dan hanya menguasai sedikit ball possession, apa yang mencegah penonton lain untuk memakai logika yang sama dan mencaci maki sebuah tim yang terlalu sering menyerang?

Mereka yang menutup mata pada pentingnya aspek pertahanan luput mengingat pada satu hal penting: pemenang pertandingan sepakbola tidak hanya ditentukan oleh tim yang mencetak gol lebih banyak, namun juga tim yang kebobolan lebih sedikit.

Ini bukanlah masalah benar atau salah. Ini adalah masalah paradigma. Semua tim ingin menang, hanya caranya yang berbeda-beda. Tidak ada cara yang salah untuk menang selama berada dalan koridor legalitas.

Sudah terlalu banyak kasus dalam sepakbola di mana keindahan tak berarti banyak.

Para moralis sepakbola menyerang boleh protes pada Jerman Barat tahun 1954 yang berani-beraninya mengalahkan Hungaria, The Magic Magyar yang dianggap salah satu tim terbaik yang pernah ada dalam sejarah.

Atau lihat juga Belanda-nya Johan Cruyff yang merevolusi taktik sepakbola dengan Total Football pada Piala Dunia 1974 tapi di final bertekuk lutut pada Jerman Barat.

Jika pemenang pertandingan sepakbola ditentukan oleh estetika, maka Brazil 1982 yang diperkuat Socrates dan Zico yang harusnya menjadi juara dunia, bukan Italia.

Di level klub, Porto menjadi juara Liga Champions tahun 2004 dengan pragmatisme yang beralasan. Chelsea pun menjuarai kompetisi yang sama tahun 2012 meskipun mereka kalah segalanya dari Bayern Munich, kecuali skor akhir.

Yang teranyar tentu saja Leicester City yang menjuarai Barclays Premier League meski pada hampir semua pertandingan selalu memegang penguasaan bola yang lebih sedikit dan mengandalkan counter attack.

Celakanya, banyak moralis yang menganggap bahwa tim yang menang dengan strategi bertahan hanya bermodal keberuntungan semata. Dari Ferenc Puskas hingga Pep Guardiola, dunia sepakbola mengenal banyak sosok yang kalah oleh strategi pragmatis dan defensif. Jika ini hanya masalah keberuntungan semata, rasanya hal ini terlalu sering terjadi.

Maka harus diterima bahwa bertahan adalah sebuah keniscayaan dalam sepakbola seperti halnya menyerang. Mempertahankan gawang dari kebobolan adalah sesuatu yang sama bernilainya dengan membobol gawang lawan.

Jika masih memprotes juga bahwa keindahan dan hiburan adalah hal mutlak dalam sepakbola tapi punya gairah besar untuk menyaksikan pertandingan olahraga, saya usulkan baik-baik untuk menonton senam ritmik atau renang indah saja.

=====

*Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Akun twitter @pangeransiahaan


 
Fill your comment here...!
Penalti Diumpan Messi-Suárez Sah?

Barcelona berhasil menang telak dengan skor 6-1 melawan Celta Vigo, Senin (15/3) dini hari WIB. Suarez mencetak hattrick pada laga tersebut yang salah satunya dicetak dengan cara yang tak biasa: dari penalti yang diumpan.

Pada penalti yang didapatkan pada menit ke-82 tersebut, Messi awalnya terlihat ...

Barcelona Sepakat Pulangkan Suarez

Diario Sport baru saja melaporkan bahwa raksasa Catalan telah memutuskan untuk memulangkan salah satu pemain mereka ke Camp Nou.

Diario Sport mengklaim bahwa Blaugrana akan mengontrak gelandang Denis Suárez dari Villarreal di jendela bursa transfer menda ...

Jadi ini Sisi Lain Antara Pemain dan Wasit

Indikator penyakit AKB

Berikut adalah daftar dari indikator penyakit AKB yg sedang dicari vaksinnya:

- Ketidakmampuan untuk berpikir logis.

Mereka tidak bisa lagi duduk pub dengan teman-teman sesama pens dan masuk ke dalam percakapan yang ...

MIMPI ARSENE

Sebenarnya prestasi yang dicapai Leicester merupakan mimpi besar dari AW. Meraih prestasi tanpa embel2 sugar daddy, pemain bintang, hutang besar, dll. Prinsip ini yang membuat AW jarang sekali membeli pemain "bintang" yang sudah tersohor, melainkan mencari bibit potensial yang dengan racikan pas, bisa menjadi t ...

Omong kosong jika Wenger akan Rombak Skuat Arsenal !

Laporan yang megatakan bahwa Arsene Wenger akan melakukan perubahan besar-besaran dengan melepas banyak pemain dan mengintai beberapa bintang inggris dibawah 23 tahun serta membidik pemain bintang seperti Toni Kroos dan Granit Xhaka, gelandang Borussia Monchengladbach.

Theo Walcott, Aar ...

Entah harus tertawa atau menangis

Melihat video ini entah apa yang dirasakan oleh fans inggris yang secara dramatis harus tersingkir di babak 16 besar oleh

...
Siapakah yang pantas untuk mengganti Arsene Wenger?

Pada pertandingan melawan yang lalu terlihat spanduk ber tuliskan "Arsene thanks for the memories but it's time to say goodbye" sampai sebegitu kesalnya kah para gooners terhadap sang professor.

Beberapa tahun yang lalu mantan pemain Arsenal, Ray Parl ...

Pasti Mereka Musuh Besar Sama Kaca...

Surat Cinta untuk Moralis Sepakbola Indah

Pemenang kontes kecantikan selalu dinilai berdasarkan penilaian kualitatif: Siapa yang parasnya paling cantik? Siapa yang kepribadiannya paling menarik? Siapa yang memberi jawaban paling memuaskan ketika wawancara?

Bagaimana menentukan yang paling cantik, yang paling menarik, ...

tes em instagram

Apa Kabar Robinho, Si “The Next Pelé”?

Namanya Robson de Souza. Pada 2005, ia sempat membuat heboh setelah proses kepindahannya dari Santos FC menuju Real Madrid berlangsung begitu lama dan alot. Santos ingin menjaga salah satu pemain terbaiknya, sementara Los Merengues ingin mengumpulkan para bintang sepakbola dunia ...